Wednesday, October 3, 2012

MNCTV Hadirkan Program 'MNCTV Pahlawan untuk Indonesia'



Stasiun televisi MNCTV menghadirkan program khusus yang melibatkan sosok-sosok berdedikasi tinggi pada orang banyakProgram ini tengah berlangsung proses penjuriannya dan akan ada malam penganugerahan yang berlangsung di JakartaRabu (24/10) dan ditayangkan MNCTV  Sabtu (27/10) pukul 21.00 WIB.
Program ini bernama MNCTV Pahlawan untuk Indonesia. Ini merupakan penghargaan bagi dedikasi sosok-sosok ini yang membawa perubahan bagi dirinya, juga lingkungannya sehingga mampu menginspirasi orang lain.
"Begitu banyak pahlawan-pahlawan yang tidak kita kenal, tetapi jasanya sangat besar kepada masyarakat banyak. Mudah-mudahan dengan ditayangkan program ini, makin banyak lagi sosok pahlawan-pahlawan muncul ke permukaan," ujar Managing Director MNCTV Nana Putra di Jakarta.
Program ini juga bertujuan membangun  harapan karena membuktikan masih ada banyak manusia berhati mulia di tengah egoisme yang berkembang. Program ini diharapkan menginspirasi masyarakat agar menjadi manusia yang lebih baik bagi diri, sesama dan negara.
Sebut saja, Indrawati Sandow. Ia salah satu kandidat terpilih ini telah lima tahun berjuang membebaskan warga sekitar Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dari keterbelakangan. Sebagai guru bantu ia sudah biasa berjalan kaki menempuh jarak hingga 10 kilometer dan kemiringan medan 45 hingga 80 derajat untuk menemui anak didiknya. Jarak tersebut harus ditempuh selama enam jam. Segala keletihan Indrawati terbayar setelah melihat semangat anak-anak suku Kaili Inde yang belajar di Sekolah Daun.
Ibu beranak dua ini rela meninggalkan keluarganya berhari-hari yang tinggal di dekat kota Palu. Honornya yang tak seberapa dan kerap terlambat diterima, ia sisihkan untuk membeli beras agar murid-muridnya makan nasi sekali sepekan.  Indrawati juga memberantas buta huruf orang-orang dewasa suku Kaili.
Kandidat lainnya, Meri Tabuni (80) atau yang akrab disapa dengan panggilan Mama Meri adalah kader pertama warga asli keturunan suku Dani yang dididik menjadi seorang petugas kesehatan. Setengah abad lebih ia mengabdikan dirinya untuk menjadi  tenaga kesehatan di tempat kelahirannya itu. Ia sama seperti warga asli pada umumnya yang buta huruf, namun ia berhasil menjadi seorang mantri dan juga mendidik beberapa warga untuk mengikuti jejaknya.
Kini, ia dan beberapa kadernya menetap di desa yang jauh dari perkotaan, yakni di Distrik Tagime, sebuah desa di lembah pegunungan Jayawijaya yang berada 1.600 meter di atas permukaan laut. Tempat yang terpencil membuat para petugas kesehatan profesional enggan menetap lama. Ia tak dibayar, kadang ubi saja sebagai tanda terima kasih pasien yang disembuhkannya. Bagi nenek yang pada masa mudanya dilatih tenaga kesehatan dari Amerika Serikat ini, masyarakat Dani datang ke puskesmas saja sudah kebahagiaan tersendiri
Sementara itu, Mulyadi, mengorbankan pekerjaan dan segala kenyamanan hidup di Jakarta. Gaji puluhan juta rupiah sebagai direktur operasional sebuah perusahaan ditinggalkan begitu saja. Mulyadi memilih hijrah ke tempat terpencil di Semarang untuk mendirikan Rumah Damai, sebuah rumah rehabilitasi untuk mengentas mereka yang terjerat candu narkoba. Tentu saja bukan hal mudah mendirikan rumah tersebut. Mulyadi bahkan sempat putus asa dan nyaris menutup Rumah Damai ketika cita-cita mulianya itu dirasa susah direalisasikan.
Namun, putaran nasib berkata lain. Rumah Damai terus berdiri kukuh. Hingga sekarang, sudah 14 tahun Rumah Damai berdiri. Aktivitasnya memberikan manfaat kesembuhan kepada lebih dari 650 orang pencandu narkoba (seluruhnya laki-laki) dari seluruh pelosok negeri agar sembuh dan bangkit dari candu narkoba.
Melalui tayangan ini, MNCTV memberikan anugerah tertinggi kepada sosok pahlawan Indonesia masa kini yang hidupnya berani berbagi dan memberi untuk sebuah arti dengan kemurnian motivasi dan hati tanpa pamrih. Calon nominator yang telah diusulkan oleh pemirsa, atau dicari melalui riset yang dilakukan oleh tim MNCTV, akan diseleksi oleh tim juri. Juri telah memilih 23 kandidat untuk kemudian menyeleksi kembali menjadi 10 orang kandidat dan menentukan 1 orang yang paling tepat menjadi sosok “MNCTV Pahlawan untuk Indonesia”.
Tim juri beranggotakan lima orang yang terdiri dari MNCTV, sosiolog Imam B Pradsojo, arsitek dan pengamat tata kota Marco Kusumawijaya dan Panji Pragiwaksono, presenter, penulis sekaligus aktivis sosial. Penilaian juga mengikutsertakan juri kehormatan yakni CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo dan budayawan Ahmad Syafi’i Ma’arif  yang akan menambah bobot penentuan sosok “MNCTV Pahlawan untuk Indonesia”.
Salah satu juri Imam B Prasodjo mengungkapkan, harapan ke depannya Republik ini menjadi tumbuh melihat kegagalan elit-elit politik yang harusnya menjadi motor penggerak masyarakat. Menurut dia ada fenomena menarik, dimana elit politik justru menciptakan kefrustrasian, tetapi justru ada segelintir orang yang bisa disebut pahlawan dan tidak terjamah oleh media. "Para pahlawan tersebut menciptakan harapan-harapan, berbanding terbalik dengan para elit politik yang menciptakan kefrustrasian. Kita butuh inspirasi dimana sudah terlalu sering keluhan dan kefrustrasian diciptakan," jelas Imam.
Imam menambahkan, media harus adil dalam pemberitaan. Adil disini maksud ia adalah jangan hanya para koruptor yang selalu mendapat pemberitaan dalam porsi besar. "Orang-orang yang jarang tersentuh media tapi punya peran besar di masyarakat, jangan samaai dilupakan," ujarnya.
Malam penganugerahan juga akan melibatkan para artis dan atlet nasional sebagai pembaca nominasi di antaranya Happy Salma, Davina, Andien, Ikke Nurjanah, Peggy Melati Sukma, Inez Putri, Ricky Soebagja dan Alexandra Asmasoebroto. Sementara itu, Kotak, Eka Deli, 5 Wanita (Yuni Shara, Andien, Rika Roeslan, Nina Tamam, Iga Mawarni), Judika, Idol Divo, Regina dan Sean akan menjadi bintang tamu.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment